Dialog Perundingan Antara Penjual Dan Pembeli

Pasar Sukawati ialah pasar Seni yang sangat populer hingga ke penjuru dunia. Pasar seni Sukawati terdapat di Desa Sukawati Kabupaten Gianyar Provinsi Bali. Pasar seni Sukawati sangat populer alasannya menjual pakaian dan kerajinan tradisional khas Bali dengan harga yang sangat murah. Pakaian menyerupai Batik yang berciri khas Batik ornamen Bali. Semua harga yang ditawarkan di Pasar Sukawati, sanggup ditawar. Kaprikornus pintar-pintarlah untuk menawar. Sebagai bayangan untuk anda, harga pas di pasar Pasar Seni Sukawati ialah sepertiga dari harga yang ditawarkan oleh penjual.

Dialog berikut berlangsung di tempat Pasar Seni Sukawati, Denpasar, Bali. Penjual barang-barang seni ialah seorang gadis Bali asli, sedangkan pembeli ialah seorang ibu muda dari Eropa yang sanggup berbahasa Indonesia. Di pasar itu dijual barang-barang seni khas Bali. Pembeli sanggup membeli barang-barang tersebut dengan harga terjangkau, menyerupai perhiasan, tas, pakaian khas Bali, batik, lukisan, dan patung. Salah satu patung yang dijual di pasar itu ialah Patung Garuda Wisnu Kencana. Patung Dewa Wisnu yang sedang menaiki kendaraannya, burung garuda. Dalam dunia pewayangan Jawa, Dewa Wisnu ialah ilahi pemelihara perdamaian dan keadilan.

1.Penjual:Good morning, Mam. Selamat pagi.Orientasi
2.Pembeli:Selamat pagi.
3.Penjual:Mari, mau beli apa?
4.Pembeli:Ada patung Garuda Wisnu Kencana yang dibentuk dari kayu?Permintaaan
5.Penjual:Ya, ada. Di sebelah sana, yang besar atau yang kecil? (Penjual memperlihatkan tempat patung yang ditanyakan pembeli)
6.Pembeli:Yang sedang saja. Yang dibentuk dari kuningan ada?
7.Penjual:Ya, ini, tidak terlalu besar. Tapi, terbuat dari kayu. Yang dari kuningan habis.Pemenuhan
8.Pembeli:Ya, dari kayu tidak apa-apa.(Patung itu sudah di tangan pembeli dan dia mengamatinya dengan cermat)
9.Penjual:Bagus itu, Mam. Cocok untuk digunakan sendiri atau untuk suvenir.
10.Pembeli:Saya pakai sendiri. Harganya berapa?Penawaran
11.Penjual:Tiga ratus ribu.
12.Pembeli:Wah, mahal. Dua ratus ribu ya?
13.Penjual:Belum boleh. Dua ratus delapan puluh lima ribu. Ini sudah murah, Mam. Di tempat lain lebih mahal.
14.Pembeli:Tidak mau. Kalau boleh, dua ratus lima puluh ribu.
15.Penjual:Belum boleh. Naik sedikit, Mam.
16.Pembeli:Dua ratus tujuh puluh lima ribu.Persetujuan
17.Penjual:Ya, bahwasanya ini belum boleh. Tapi, untuk Nyonya boleh. Mau beli apa lagi?Pembelian
18.Pembeli:Tidak. Itu saja. Ini uangnya. (Penjual memasukkan patung itu ke dalam tas plastik yang bertuliskan nama kiosnya. Pembeli mengatakan uang pas).
19.Penjual:Ya, terima kasih.Penutup
20.Pembeli:Terima kasih. Bye, bye.
21.Penjual:Have a nice day (Pembeli pergi meninggalkan kios itu)

Negosiasi yang terjadi pada jual beli lebih kompleks dan berjalan berdasarkan alur yang lebih alami sehingga tiga tahap saja belum cukup. Struktur teks itu akan menjadi lebih kompleks apabila barang yang dibeli lebih dari satu dan keadaan pasar memungkinkan hal itu terjadi. Kekompleksitasan itu menuntut tahap-tahap yang lebih banyak untuk mewadahi kejadian tutur yang ada. 

Siapa yang terlibat dalam perundingan pada kejadian jual beli di Pasar Seni Sukawati itu? Jelaskan latar belakang masing-masing. Penjual barang-barang seni ialah seorang gadis Bali asli, sedangkan pembeli ialah seorang ibu muda dari Eropa yang sanggup berbahasa Indonesia.

Menjual karya seni lokal kepada orang abnormal sudah merupakan bentuk promosi ke negara asal orang abnormal tersebut. Karena dengan menjual karya seni kepada orang abnormal akan memperkenalkan produk kesenian Indonesia kepada negara lain.

Pada teks perundingan tersebut orang abnormal itu sudah sanggup berbahasa Indonesia. Dari cara dia berbicara, berdasarkan asumsi orang abnormal itu sudah pernah berkunjung ke Bali atau pulau lain di Indonesia. Orang abnormal tersebut belum mengerti tokoh yang dijadikan patung tersebut. Dia hanya membeli patung tersebut sekedar sebagai benda seni saja.

Apa perbedaan yang ada antara penjual dan pembeli? Penjual biasanya menjual barang dengan mencari keuntunga sebesar-besarnya, sedangkan pembeli biasanya membeli barang dengan kualitas baik dan harga serendah mungkin. Di pasar pasar modern pembeli tidak sanggup melaksanakan tawar menawar atau perundingan harga alasannya harga sudah dibandrol, tetapi jikalau di pasar tradisional harga masih sanggup ditawar.

Kesepakatan apa yang dicapai dalam teks di atas ialah akad harga patung Dewa Wisnu seharga dua ratus tujuh puluh lima ribu rupiah. Dalam hal harga, pada teks tersebut pedangang yang menyerah dalam hal harga patung. Harga patung yang semula ditawarkan sebesar tiga ratus ribu sehabis perundingan menjadi dua ratus tujuh puluh lima ribu rupiah.

Pada tuturan ke tujuh belas penjual memperlihatkan barang lain sehabis terjadi akad harga patung Dewa Wisnu. Memang tidak diharuskan pembeli selalu menuruti impian penjual dalam hal harga barang. Penjual juga dihentikan memaksa pembeli untuk membeli barang yang ditawarkan.

Pada waktu membeli barang di pasar, sebaiknya menawar harganya terlebih dahulu alasannya harga yang ditawarkan di pasar biasanya dinaikan dari harga sebenarnya. Melalui proses tawar menawar biasanya akad harga sanggup dicapai. Hal itu tentu berbeda dengan pasar modern menyerupai mall alasannya di pasar modern menyerupai mall biasanya harga sudah tidak sanggup ditawar lagi. Mau tidak mau pembeli harus membeli dengan harga yang tertera pada bandrol.

Pada waktu membeli barang biasanya kita sanggup menentukan barang-barang yang kita hendaki. Tentunya tergantung dengan kebutuhan dan uang yang kita miliki.
Dialog Perundingan Antara Penjual Dan Pembeli Dialog Perundingan Antara Penjual Dan Pembeli Reviewed by dannz on 7:28 PM Rating: 5